Kamis, 03 Desember 2009

What A…

Kabar Siang di tvOne hari ini, 3 Desember 2009. Hakim Ketua sidang Jaksa Ester yang didakwa menjual 300 butir pil ekstasi hasil sitaan penggerebekan narkoba di sebuah apartemen di Jakarta Utara, menjelaskan bahwa ringannya hukuman Jaksa Ester karena kesalahan itu dianggap KELALAIAN DALAM BERTUGAS. Dan karena pekerjaan utamanya bukan pengedar ekstasi. Ditambah lagi, Jaksa Ester dikatakan sudah berjasa pada masyarakat selama belasan tahun.

Astaghfirullah..Astaghfirullah..Astaghfirullah..

Batin hanya bisa melafalkan kata itu. Tidak lebih.

Saya sangat penasaran dengan sudut pandang yang dipakai oleh Bapak Hakim.

Bukannya justru karena Jaksa Ester adalah penegak hukum alias abdi negara maka seharusnya dia dilarang dua kali lebih keras daripada warga biasa untuk melanggar hukum. Bukannya justru karena pekerjaan utamanya sebagai jaksa maka dia dilarang dua kali lebih keras daripada warga biasa untuk mengambil “sidejob” sebagai penjual narkoba. Apalagi, narkoba yang dijual adalah barang bukti yang disita dari sebuah kasus hukum.

Mengapa bisa mendapat hukuman ringan?

Bagaimana mungkin kesalahan itu menjadi “kelalaian dalam bertugas”?

Sementara tiga butir kakao ditukar satu setengah bulan penjara.

Sementara gara-gara satu semangka harus mendekam di penjara.

Sementara satu butir ekstasi membawa Amir Machmud tinggal di bui selama empat tahun.

Keadilan.
Benar-benar gelap. Menjelang gulita.

Astaghfirullah...

Selasa, 10 November 2009

Rasa

Menurut saya semuanya sempurna. Penuh warna, indah. Tapi lalu kesempurnaan itu berubah menjadi ketidakpercayaan diri, kekhawatiran, dan berujung pada (hampir) keputusasaan. Saya mencintainya dengan segenap raga dan jiwa. Tapi mendadak, saya merasa tidak pantas untuknya....

Minggu, 30 Agustus 2009

Sebuah Pertanyaan tentang Cinta


Bagaimana menjawab pertanyaan: Cinta seperti apa yang kamu rasakan?

Ternyata sangat tidak mudah mengungkapkan isi hati dan pikiran ke dalam rangkaian kata...


Kamis, 28 Mei 2009

Yang terlintas di benak..

Kedewasaan harus dibentuk, ia tidak datang dengan sendirinya..

INDEPENDENSI TELEVISI DALAM PILPRES 2009


Loyalitas jurnalis adalah kepada publik. Kepentingan yang diusung dalam setiap pemberitaan adalah kepentingan masyarakat. Dua hal tersebut harus dimiliki stasiun televisi sebagai media informasi, terutama bagi stasiun tv yang mengklaim diri sebagai tv berita. Karena itulah, independensi stasiun tv harus terjaga agar konflik kepentingan—antara tokoh politik, partai politik tertentu, atau penguasa—bisa dihindari.

Dalam menyambut Pilpres 2009, stasiun tv sebagai media harus memberi gambaran secara utuh tentang profil para capres dan cawapres. Profil tersebut bukan sekadar biodata pribadi, tapi harus memperlihatkan prestasi dan kegagalan para calon pemimpin dalam kapasitas mereka sebagai individu, makhluk sosial, maupun tokoh masyarakat. Terlebih mereka yang pernah mengemban jabatan publik atau militer.

Tidak hanya memperlihatkan karakter pribadi dan pengalaman para calon pemimpin, media juga harus mampu menghadirkan analisis dan prediksi seputar duet kepemimpinan dan koalisi partai politik pendukung capres-cawapres. Dari profil pribadi, pendapat para pengamat politik, dan mengamati sepak terjang masing-masing calon pemimpin, media harus mampu menginformasikan kelebihan dan kekurangan ”paket” calon pemimpin 2009-2014.

Dalam menginformasikan kekuatan dan kelemahan tersebut, stasiun tv harus melakukannya dengan netral dan independen. Kunci utamanya adalah dengan tidak mengemukakan opini dalam pemberitaan seputar pilpres. Masyarakat cukup disodorkan fakta-fakta dari gambar di lapangan, diperdengarkan para tokoh yang diwawancarai, dan diperlihatkan data. Media memiliki kewajiban untuk menyuguhkan hal-hal positif maupun negatif. Namun hasil akhirnya tetap diserahkan kepada publik untuk menilai dan memutuskan.

Selain mengulas lengkap para calon pemimpin di pilpres 2009, stasiun tv juga harus menginformasikan tahapan pilpres dengan jelas. Di sinilah peran stasiun tv sebagai pendidik masyarakat dimainkan. Masyarakat harus tahu bagaimana para capres dan cawapres tersebut mematuhi jadwal yang diberikan KPU dan bagaimana mereka memanfaatkan hari-hari tersebut. Masyarakat diharapkan dapat melihat efektivitas dan efisiensi kampanye yang dilakukan para capres dan cawapres.

Independensi stasiun tv juga menjadi sangat penting karena masyarakat Indonesia sudah mulai kritis dalam menyikapi pemberitaan media. Simbol, narasi, cuplikan-cuplikan gambar dan kutipan pernyataan para tokoh yang tidak berimbang akan dengan mudah menimbulkan persepsi di masyarakat bahwa stasiun tv yang menayangkannya adalah kendaraan politik tokoh atau parpol tertentu. Karena itulah, stasiun tv harus selektif menayangkan gambar, komentar, dan data. Temasuk di dalamnya narasumber, baik individu (pengamat politik) maupun sumber data lain (lembaga survei dan riset).

Jumat, 24 April 2009

Mencoba Jujur pada Diri Sendiri

I feel something..and i say it. Meski sangat berat pada awalnya, namun akhirnya saya berhasil juga mengekspresikan perasaan saya lewat kata-kata. Tercurah begitu saja. Mengalir tanpa beban. Tanpa pretensi. Tanpa dipenuhi kekhawatiran apakah hari esok rasa itu akan tetap bertahan. Berbeda jauh dengan diri saya yang dulu. Yang selalu mengutamakan logika, daripada perasaan.

Setelah dicoba, ternyata menyenangkan juga. Menenteramkan, malah. Karena tidak ada yang mengganjal di hati dan pikiran. Tidak ada yang membuat tidur terasa tidak nyenyak. Tidak ada yang membuat senyum terasa hambar untuk ditebar. Ternyata tidak ada ruginya menyenangkan diri sendiri sekaligus membahagiakan orang lain. Tidak ada salahnya menikmati apa yang dianugerahkan Allah pada hari itu. Yang terpenting, saya selalu mencoba menjaga syukur agar tak pernah lari. Agar kejujuran yang saya tanamkan ke diri saya, tidak lantas mengaburkan ke-hamba-an saya. Karena jujur, saya sangat takut kehilangan kesempatan untuk bahagia.

Minggu, 01 Maret 2009

Selalu Bersiap Diri


Kata Mario Teguh, kita harus menjadi orang yang siap. Dengan begitu, kita dapat memohon pada Tuhan untuk menggunakan kesiapan kita. Tuhan tidak akan memberikan kesempatan pada orang yang belum siap, atau tidak bisa menyiapkan diri dengan cepat. See?

Berarti memang tidak ada yang namanya kebetulan. Tidak ada yang namanya “just luck”. Kita mendapatkan sesuatu ketika kita siap. Ketika kita memohon (sambil setengah memaksa) tapi tidak juga dikabulkan, tengoklah kesiapan diri kita daripada menyalahkan keadaan. Tidak ada gunanya membandingkan “kekurangan” diri kita dengan kelebihan yang dimiliki orang lain. Lebih baik, inventarisir “kekayaan” diri yang ada pada diri kita lalu merancang berbagai rencana untuk ke depan. If plan A doesnt work, go to plan B. Dan seterusnya. Di situlah kegigihan kita diuji.

Bicara tentang kegigihan, saya teringat komentar seorang teman tentang hobi belanja saya. Dia bilang, jika perempuan bisa begitu gigih untuk berbelanja, kenapa laki-laki tidak bisa gigih memperjuangkan cinta? Belanja dan cinta. Saya hanya tersenyum melihat perbandingan itu. Sama-sama gigih, namun dalam situasi yang berbeda. Tapi intinya sama, mendapatkan sesuatu (dalam kasus cinta: seseorang).

Tapi, apakah ketidaksiapan bisa menjadi alasan kita menolak “anugerah” yang diberikan Tuhan? Misalnya saja cobaan atau ujian yang datang untuk menguji seberapa besar kesabaran kita menjalani hidup. Belum mendapat pekerjaan, belum menikah meski usia sudah hampir masuk tiga dekade, belum punya rumah sendiri, atau sudah bertahun-tahun tidak naik gaji..karena sepertinya hal-hal semacam itu tidak bisa dihindari.

Ya..seminim apapun “senjata” yang kita punya, kita harus selalu siap menghadapi peperangan. Walaupun kita merasa masih banyak hal yang belum berhasil kita capai, kita harus selalu siap menjalani hari esok. Hari gini masih ngerasa jadi orang paling menderita sedunia? Plis deh..Sudah bukan jamannya takluk pada kesusahan. Kini saatnya kita menaklukkan kesusahan. Bisa jadi, prinsip takut susah dan tidak mau susah adalah alasan kenapa praktik aborsi ilegal makin marak. Terakhir, sebuah klinik aborsi di Johar Baru, Jakarta digerebek polisi. Mirisnya, klinik itu telah beroperasi selama 10 tahun! Apakah ini tandanya semakin banyak orang tidak mau berjuang? Wallahu a'lam.

Masih banyak keindahan dunia yang bisa kita nikmati dengan cara yang santun. Masih banyak hal yang bisa dipelajari untuk memperkaya diri. Masih banyak networking yang bisa dibangun untuk mengembangkan diri. Dan masih banyak orang baik yang bisa dijadikan teman berbagi cerita. Berapa umur kita sekarang? 26, 29, 30? Tak perlu menyesali kenapa hingga sekarang belum bisa sesukses si A, B, atau C. Lebih baik tekadkan bahwa hidup kita dimulai sekarang. Saat ini. Itulah persiapan terbaik yang kita bisa kita lakukan. Setelah itu, kita tinggal menunggu kebaikan apa yang direncanakan Tuhan untuk kita.

Like Maya Angelou said, “Life is not measured by the number of breaths we take, but by the moments that take our breath away.”

Minggu, 22 Februari 2009

Campur Aduk..


About me now..


1. Di hari ulang tahun saya tahun ini, saya dihadiahi surprise party yang digagas sahabat saya. sangat berkesan, karena menghadirkan seseorang yang sempat membuat saya mengalami butterfly effect (*blushing*). Senang sekali. Padahal sejujurnya, saya saat itu tidak punya pretensi apa-apa tentang dia. Tapi tau bahwa dia mau menemui saya bersama sahabat-sahabat saya di hari istimewa, itu sudah membuat senyum saya mengembang sampai pagi. Setelah itu, tidak ada yang istimewa.
2. Bertekad menjadi orang yang lebih open minded dan lebih rileks menjalani kehidupan. Susah..karena otak saya terbiasa berpikir keras dan detail, bahkan cenderung berlebihan.
3. Minta cuti dua hari tapi malah disuruh cuti enam hari. Menarik di awalnya, karena saya punya rencana pergi ke luar Jakarta selama lima hari. Eh, ternyata acaranya batal..dan saya hanya pergi liburan dua hari. Sisanya, menyibukkan diri menghadiri berbagai acara di Jakarta.
4. Sempat mengalami disorientasi hidup. Tiba-tiba saja saya bingung, sebenernya apa sih yang saya mau, butuh, dan kejar dalam hidup ini? Untung seorang teman baik saya mengingatkan untuk selalu bersyukur.
5. Tiba-tiba merasa tidak diinginkan oleh siapa pun. Bagaimana rasanya merindukan seseorang yang tidak merindukan kita karena dia sudah bosan merindukan kita tapi kita tak kunjung merindukannya? Mengerikan..
6. Si bos menugaskan pekerjaan baru pada saya. Ada yang bilang pada saya, just begin to do it..
7. Mulai bisa mengurangi kecanduan cappucino float yang merusak diet raga dan diet kantong.
8. Merasa sedang mengalami kesulitan berkomunikasi dengan orang lain. Bahaya nih..
9. Tergila-gila pada Breaking Dawn!!! Renesmee is my fave. Tidak menyangka it’s happen to me again setelah Harry Potter. Dasar pengkhayal..
10. Memutuskan kembali berorganisasi setelah dua tahun lebih menarik diri. Banyak yang terlewat. Mungkin ini saatnya kembali menyibukkan diri daripada memenuhi otak dengan segudang kekhawatiran.
11. Menghayati kembali lagu It’s Hard to Say Good Bye nya Celine Dion & Paul Anka..won’t be demanding. If it’s what you want, it’s what i want..i want what’s best for you. Tragis...(sambil tetap berharap ada seseorang mengatakan, when u finally get to love somebody, guess what..it’s gonna be me dengan sangat pede untuk memenangkan hati saya).
12. Becoming a shopping freak! Tapi sudah berjanji tidak ada belanja hingga dua bulan mendatang. (kuat nggak ya? HARUS KUAT!!)
13. Sibuk menyemangati orang-orang terdekat dan setelah itu terhenyak, terhempas, dan ingin tidur terusss..karena nggak punya shoulder to cry on (bukan bermaksud mengecilkan peran sahabat2 terbaik saya, tapi...kalian ngerti, kan?)
14. Berdoa dan berusaha semoga bisa gigih mewujudkan target-target tahun ini.

Senin, 26 Januari 2009

My Inspiration: 9 Matahari Magic Words


I've just finished reading 9 Matahari by Adenita. Such a great novel that inspired me so much. Sometimes i felt that she (Adenita) tried too hard to explain every little thing, but still.. i love the idea. Believe it or not, i feel very full after reading it. With my teardrops on my pillow, i said to myself that i should push my self harder. I realize that i spent my days in a very lazy way. Bad, huh? And i should learn how to say "i can" in my everyday.

I found many great quotes there..but my fave magic word is "when you're wishing to be someone else, someone else in somewhere is wishing to be you.." it's just like an answer for my ungrateful behavior. I should begin to concentrate on me. Myself. My strength. My ability. What i can give to others. I should not judge a book by it's cover.

Life is full of romance..when it comes to you in a colorful design. You dream, you struggle, you fall, you cry, you evaluate, you stand up, you work hard, you achieve. It's just like a rainbow that comes after heavy rain. Let's change that magic word into some magic actions. Start from now on...


PS: 9 Matahari told us that we should not regret what u did in the past, or bad situation you're facing now. But, suddenly i remember this S Club 7 song..

"Have You Ever"

Sometimes it's wrong to walk away, though you think it's over
Knowing there's so much more to say
Suddenly the moment's gone
And all your dreams are upside down
And you just wanna change the way the world goes round

Tell me, have you ever loved and lost somebody
Wished there was a chance to say I'm sorry
Can't you see, that's the way I feel about you and me, Baby
Have you ever felt your heart was breaking
Lookin down the road you should be taking
I should know, cos I loved and lost the day I let you go

Can't help but think that this is wrong, we should be together
Back in your arms where I belong
Now I've finally realised it was forever that I've found
I'd give it all to change the way the world goes round

Tell me, have you ever loved and lost somebody
Wished there was a chance to say I'm sorry
Can't you see, that's the way I feel about you and me, Baby
Have you ever felt your heart was breaking
Lookin down the road you should be taking
I should know, cos I loved and lost the day I let you go

I really wanna hear you say that you know just how it feels
To have it all and let it slip away, can't you see
Even though the moment's gone, I'm still holding on somehow
Wishing I could change the way the world goes round

Tell me, have you ever loved and lost somebody
Wished there was a chance to say I'm sorry (I'm sorry)
Can't you see, (ohhh) that's the way I feel about you and me, Baby
Have you ever felt your heart was breaking
Lookin down the road you should be taking
I should know, (I should know) cos I loved and lost the day I let
Yes I loved and lost the day I let
Yes I loved and lost the day I let you go


It's time to say good bye to all sad memories. And just like another magic word from Adenita, everybody can be a winner. So, don't sing (that song) too much :p

Minggu, 25 Januari 2009

Diam Pun, Ada Risikonya


Percaya karma? Saya sih, lebih memilih istilah "kebaikan dibalas kebaikan dan kejahatan dibalas kejahatan" daripada karma. Fa man ya'mal mitsqala dzarah khairan yarah, wa man ya'mal mitsqala dzarah syarran yarah. Siapa menanam, dia menuai. Siapa malas, dia tidak mendapat apa-apa. Siapa bekerja keras, pasti menikmati buah kesungguhannya. Mungkin hasilnya tidak cepat terlihat dan terasa, tapi akan datang pasti. Suatu saat nanti. Sayangnya, banyak orang menuntut kesuksesan instan dalam hidup mereka. Dan akhirnya membuat mereka memilih jalan pintas meraih sukses. Sukses, yang (jika mereka mau menyadarinya) hanya dinikmati sejenak di dunia.

Untuk meraih keberhasilan, kita tak bisa hanya mengharap keajaiban. Untuk mengubah kondisi diri ke arah yang lebih baik, kita tak bisa mengharap orang lain memperbaikinya untuk kita. We do have power inside us and we must use it for the shake of our life. Dan untuk melatih inner power tersebut, kita harus bergerak dan belajar. Berusaha untuk tidak selalu melihat ke atas dan silau oleh kemilau penampilan fisik. Berupaya untuk memahami bahwa kehidupan adalah berbuat dan berbuat. Tidak sekadar menginginkan sesuatu, tapi juga berdaya mewujudkannya.

Saya ingin bergerak dan bergerak. Saya ingin menajamkan seluruh indra. Saya tidak mau dikalahkan keadaan. Saya ingin membuat resolusi yang melahirkan revolusi. Karena, jika diam pun ada risikonya, mengapa harus takut bergerak?

Jika hanya diam, kita akan melihat diri kita dikalahkan waktu. Kita akan melihat betapa lambatnya proses diri kita untuk maju. Kita akan menyaksikan teman-teman sebaya memiliki lebih banyak pengetahuan dan karir cemerlang, melesat jauh meninggalkan kita. Jika hanya diam, kita akan berada dalam zona nyaman yang membunuh intelektualitas, rasa, dan semangat. Jika kita hanya diam, kita akan melihat alam semakin rusak dan bencana makin marak. Jika hanya diam, kita hanya bisa mengutuk dan mencaci, padahal kita tak pernah mencoba mengubah sesuatu.
  • Meski gagal, berusaha merupakan satu langkah lebih maju dibandingkan diam.
  • Jangan merasa terbatas, karena keterbatasan diciptakan oleh diri kita sendiri.
  • Belajar dan bekerja dengan giat, bukan melulu tentang nilai yang baik dan promosi. Semuanya demi kebaikan diri kita sendiri. Semakin baik yang kita lakukan, semakin banyak pengalaman yang kita dapatkan, semakin besar perubahan yang kita buat ke arah hidup yang lebih baik.
  • Jangan selalu terpukau dengan kedudukan orang lain. Karena, tiap orang memiliki waktu yang berbeda untuk menjadi "berhasil". Jangan pernah berpikir Tuhan tidak adil.

Entah satu bulan, satu tahun, atau sepuluh tahun lagi, kebajikan yang kita kerjakan akan membawa kebaikan bagi kita. Kesungguhan akan berbuah manis. Menurut saya, itu sudah menjadi sunnatullah. Hukum alam. Reaksi dari aksi. Sebab akibat. Namun jika kita tetap memilih untuk berdiam diri, bersiaplah menerima risiko didiamkan oleh semesta.

Jumat, 23 Januari 2009

Tak Ada Lagi yang Disembunyikan


Obama berpidato. Di sampingnya, Menlu AS yang baru, Hillary Clinton. He said, "America is committed to Israel security.." Nggak cuma itu, Obama juga menekankan akan mendukung dan melindungi Israel dari segala bentuk ancaman. Saya, beberapa rekan, dan si bos, terpaku menatap layar tv. Mengamati. Akhirnya, si anak Menteng itu bicara dengan jelas tentang sikapnya terhadap konflik Palestina-Israel. Sangat jelas malah. Karena, setau saya, dia adalah presiden AS pertama yang mengakui dengan tegas dan gamblang bahwa AS akan setia pada Israel. Akhirnya, AS berani juga "go public" tentang relationshipnya sama Israel. Setelah selama ini kemesraan mereka backstreet, meskipun sudah menjadi rahasia umat sedunia. Saya ucapkan selamat.

Lucu ya. Presiden yang berjanji akan menjaga perdamaian dunia kok memilih melindungi si penebar ancaman. Bukannya malah melindungi bangsa-bangsa yang diancam. Ironis. Tragis. Menyedihkan. Memilukan. Memalukan.


Kalau satu lemparan batu dibalas satu tembakan, apakah yang dibela adalah yang melepaskan tembakan? Kalau satu lemparan granat dibalas puluhan bom fosfor putih yang mampu membakar kulit sampai tulang, apakah yang dibela adalah yang melepaskan bom fosfor? Kalau satu roket dibalas ribuan missil DIME yang mengoyak tubuh tanpa ampun, apakah yang dibela adalah yang mengirim DIME?


Jika jawabannya ya..maka saya hanya bisa mengelus dada. Kok ada ya, manusia yang "lengkap" tidak punya nurani dan tidak punya otak?


Saran saya, daripada mulut berbusa, sibuk mengklaim diri sebagai penjaga perdamaian dunia (bahkan mengalahkan otoritas makhluk bernama UN), sebaiknya Mr. President kembali membuka buku dan kamus.
Back to school, belajar mengharmonisasikan pikiran dan perasaan. Memahami kembali hakikat sejati perdamaian. Menyelami kembali apa itu objektivitas, keadilan, kemanusiaan, hak asasi manusia, dan cinta sesama. Kalau mau ditarik benang merah, pasti Anda melihat ada kalimat TANPA PANDANG BULU yang terkandung di dalamnya.

Jika tidak mau, lebih baik ucapkan selamat tinggal pada perdamaian dunia....

Kamis, 08 Januari 2009

Move on with My Life


I gotta move on with my life. Itulah yang terbersit di benak saya, ketika tiba di penghujung Desember 2008..mendapati lebih dari separuh hal di wishlist yang tak tergapai. Yang menyedihkan, saya lah penyebab gagalnya cita-cita itu. Bukan orang lain, bukan keadaan. Saya mendapati diri saya kurang mampu mendisiplinkan hati dan pikiran, sehingga tidak konsisten menjalani tujuan hidup. Saking tidak mampunya, banyak hal yang kebablasan. Ini terutama menyangkut urusan finansial. Saya gagal mengencangkan ikat pinggang. Ini membuat saya sempat pesimis menghadapi krisis global menjelang akhir tahun 2008. Hehe..lagaknya kayak pebisnis kakap yang punya puluhan perusahaan aja.


Kekecewaan saya mendapati banyak impian yang tidak tercapai, tak urung membuat saya melakukan flashback. Kalau diliat-liat, tidak ada yang salah dengan wishlist saya. Semua dibuat dengan tidak muluk-muluk, alias realistis. Beberapa memang butuh perjuangan cukup berat, namun bukan berarti berat dilakukan. Pfuih..baru nyadar, ternyata saya belum mampu menata emosi dengan baik. Akibatnya ya itu..perubahan mood yang naik turun membuat saya seenaknya melakukan hal-hal tidak penting yang merusak kualitas hidup. Dan seperti biasa, menyesal datang belakangan. Kalau diingat, bikin dada terasa sesak.


Parahnya, kekecewaan saya terhadap diri saya berlangsung cukup lama. Saya mulai merasa ada yang tidak beres dengan diri saya sejak pertengahan Desember. Dan kegamangan itu berlangsung hingga malam tahun baru 2009 berlalu. Bahkan beberapa hari di awal Januari. Padahal biasanya selesai mengevaluasi the journey of my life selama satu tahun, saya akan melewati malam pergantian tahun dengan tangisan haru berbalut optimisme baru. Ada apa dengan saya?


Akhirnya saya putuskan menguntai benang kusut yang ada di benak saya. Ada banyak masalah di sana. Setelah ditelaah secara komprehensif dan dikupas secara tuntas, saya sadar semua “masalah” tadi seharusnya tak perlu menjadi masalah selama saya bersyukur dan memandang segala hal menyesakkan tadi dari sudut pandang berbeda. Ya, jika dilihat secara out of the box, “masalah” adalah anugerah. Anugerah yang tidak sepantasnya dikeluhkan.


Maka saya membulatkan tekad untuk menghentikan kepedihan mendalam saya. Lucunya, tekad saya itu tercetus ketika saya melewati sebuah lorong gelap di kantor. Meski gelap (karena tidak ada lampu menyala di sepanjang lorong), saya justru mendapatkan seberkas sinar terang. Sinar yang menjadikan tagline saya di awal tahun 2009 adalah “Banyak Bersyukur, Sedikit Mengeluh”. Sebuah semboyan klasik yang belum berhasil saya wujudkan dalam hidup sehari-hari. Dan opportunity saya melakukan banyak hal baru di tahun yang baru ini terbuka lebar. Asal itu tadi, saya bisa mendisiplinkan hati dan otak saya untuk stay on the right track.


Maka akhirnya, meskipun badan belum terbebas dari tumpukan lemak, belum bisa melanjutkan kuliah ke tingkat yang lebih tinggi, belum bisa umrah, belum bisa liburan ke tempat yang belum pernah dikunjungi, dan seseorang menolak untuk memimpikan saya dalam tidurnya:( saya belajar untuk selalu setia mengucapkan (dan menghayati) kata alhamdulillah dalam setiap untaian nafas....


Jika ingin membuat new year/birthday resolution, saran saya:

  1. Pertimbangkan kekuatan diri kita saat membuat resolusi dan perkirakan adakah kemungkinan kekuatan itu akan bertambah atau berkurang di bulan-bulan mendatang. Boleh optimis, asal tetap berpijak pada kualitas diri.
  2. Jangan membuat resolusi yang jauh lebih tinggi dari tahun sebelumnya. Lebih baik utamakan mewujudkan resolusi yang belum tercapai.
  3. Konsekuen dengan target yang dibuat.

Minggu, 04 Januari 2009

Secercah Asa di Tahun Baru


Tahun baru 2009.

Segala doa, harapan, dan cita-cita digantungkan. Sky is the limit. Menjadi pribadi yang lebih baik dari kemarin adalah kemuliaan. Dan untuk mewujudkan, benar-benar tidak mudah. Karena terlahir sebagai manusia, naik turun emosi dan pasang surut keimanan menjadi sebuah keniscayaan yang-rasanya tidak mungkin tidak-dirasakan.

Maka yang diperlukan adalah take the first step. Itu yang terberat. Itu yang selalu dibayangi ketakutan. Itu yang membuat kita tidak yakin. Gamang, ragu, berat, enggan. Padahal, satu langkah itulah yang akan membawa kita ke langkah-langkah berikutnya. Mengantarkan kita pada 1001 kemungkinan dan kesempatan.

Kita tak akan pernah tahu jika tidak mencoba. Dan untuk mencoba, jangan pernah ada menunda. Tak ada yang tahu apa yang terjadi di hari esok. Tak ada yang tahu kapan nyawa tercabut dari raga.

Melangkahlah, atau kita akan terus terbelenggu dalam masalah yang sama. Melangkahlah, agar segala penasaran sirna dan ketidakyakinan punah. Melangkahlah, agar hidup tak sekadar "mampir" ke dunia tanpa berbuat yang terbaik. Agar tak ada sesal di kemudian hari.

Dan sekarang, saya memberanikan diri untuk melangkah....

HAM Mana yang Dibela?


Sangat sangat sangat kecewa, nggak habis pikir, sambil bertanya-tanya dalam hati apakah perempuan bernama Tzipi Livni itu (Menlu Israel) punya nurani dan pikiran jernih. Di tv, dia bilang, “Jika banyak orang Palestina menjadi korban, itu wajar.”

Seorang perempuan bisa mengatakan hal itu?
Seorang ibu dua anak sanggup mengatakan hal itu?
Apakah dia tidak pernah mendengar kata kemanusiaan?
Apakah dia tidak pernah menyimak adanya HAM?

Paul Hanna dalam bukunya You Can Do It! mengatakan, “Semakin sering seseorang meneriakkan kehebatannya, semakin kecil rasa percaya dirinya.”


Sejak menyaksikan Tzipi itulah, mood menulis tiba-tiba menguap…

Senin, 15 Desember 2008

Terjebak dalam Contradictio in Terminis


Saya menemukan kumpulan kata "contradictio in terminis" saat melihat review buku Legacy of Ashes, The History of CIA karya Tim Weiner di sebuah situs. Mungkin sebelumnya pernah liat, tapi belum terasa 'magnet'nya. Kata-kata yang unik. Contradictio in Terminis, secara sederhana bisa diartikan sebagai kontradiksi. Melirik ke Wikipedia, di sana ada contoh liquid ice dan square circle. Mungkin sama dengan sekumpulan orang yang mengadakan sumpah dan baiat anti korupsi, tapi pada kenyataannya nggak punya malu untuk ngambil uang rakyat.

Membicarakan korupsi terang-terangan, jadi ingat anggaran Pemda DKI Rp 35 juta untuk satu laptop karyawannya. Alasannya, karena nggak tau harganya, jadi dipakailah batas atas/maksimal. Kayaknya saya pingin banget teriak "Helllooooo...." dengan gaya
teenager masa kini. APA NGGAK BISA SURVEI HARGA, MINTA BROSUR, BROWSING, ATAU NANYA KE ORANG YANG BARU BELI LAPTOP?????? Emangnya mau laptop secanggih apa sih?? Emangnya laptop itu nanti mau digunain buat apa sih?? Apa daya, RAPBD 2009 sudah disahkan. Saya cuma bisa berdoa semoga alasannya bukan "supaya lebih asyik main solitaire" atau "supaya chatting dengan teman beda ruangan makin lancar". Saya berharap, semoga laptop canggih itu bener2 dipakai untuk proyek perencanaan tata kota yang lebih baik. Amiin...

Anyway, contradictio in terminis
juga bisa terjadi dalam diri manusia. Kita mungkin seringkali terjebak dalam situasi kontradiktif. Benci tapi rindu, mau melanjutkan kuliah tapi malas mendaftarkan diri ke universitas tujuan, ingin maju dalam karir tapi ogah mengembangkan network dan segan mengikuti berbagai forum diskusi. Termasuk juga ingin segera meninggalkan status lajang tapi belum siap seandainya ada yang ngajak nikah tiga bulan lagi. Atau mengatakan hidup ini indah lalu menangis sejadi-jadinya sedetik kemudian. Atau, kaum miskin di Jakarta makin banyak sementara mal megah yang menjadi fasilitator penyerbuan merk dunia juga makin banyak. Aneh. Tapi nyata.

Seringkali otak dan hati beradu argumen. Logika dan perasaan berbenturan. Saat kita merasa perlu melakukan sesuatu, saat itu pula ada bagian diri kita yang mengatakan sesuatu itu tak perlu dilakukan. Contoh nyata adalah ketika seseorang jatuh cinta. Akal sering tak bisa menerima apa yang hati katakan. Tapi karena perasaan menang dari logika, maka hal yang sepertinya tak masuk akal terasa mudah dan penting untuk dilakukan. Atau ketika orang yang ada di hadapan kita tidak memiliki akhlak karimah, tapi karena terlanjur cinta, maka kita menjadi permisif.


Dan terjebak dalam
a contradictio in terminis sungguh menyiksa. Sederet keinginan, mimpi, dan harapan telah terbangun dalam layar imajinasi. Tapi di kehidupan nyata, tak ada satu pun (atau mungkin hanya satu di antaranya) yang menjadi kenyataan. Bukan karena tidak direstui "langit", tapi karena usaha kita tidak sebesar harapan kita. Karena bagaimanapun juga, yang terpenting dalam meraih sesuatu adalah prosesnya.

Panas dingin. Gelap terang. Maju mundur. Jika ditelaah, sebuah contradictio in terminis tidak akan melahirkan dinamika dan pergerakan. Kontradiksi hanya melahirkan kebingungan, kesangsian, dan kestatisan. Tak ada langkah maju, karena mata tertutup dan kita bak berada dalam ruangan sempit tanpa sinar mentari. Sama seperti ketika saya menulis ini..benak saya meletupkan banyak kata-kata untuk diterjemahkan secara tertulis. Tapi sayang, apa yang saya tulis tak sesuai dengan apa yang ingin saya sampaikan. Bingung? Maklumlah, namanya juga sedang terjebak dalam sebuah contradictio in terminis...

Senin, 08 Desember 2008

Hakikat dan Makna Keibuan


Setiap orang punya pendapat masing-masing tentang sosok ibu. Bagi sebagian remaja sekarang, konsep ideal seorang ibu kira-kira “a superwoman who can act as a mother, friend, and sister. She always listens to what I want.” Konsep ideal ini secara implisit menyuarakan keegoisan dari orang yang mengatakannya, karena memfokuskan pada apa yang bisa ia peroleh dari ibu. Tidak ada gambaran utuh seorang ibu.


Sosok ibu amat lekat dengan konsep keibuan. Dalam persepsi saya, keibuan adalah manifestasi sifat dan sikap seseorang. Di mata saya, seseorang yang keibuan memiliki sifat welas asih, penyayang, penyabar, halus budi, arif, dan lembut. Berbagai sifat itu kemudian terakomodir dalam sikap mengayomi, mendidik, mengasuh, mendukung, dan pengertian. Keibuan adalah karakter kuat seorang perempuan yang menjadikannya berbeda dari laki-laki.


Seorang perempuan yang keibuan seharusnya bisa merasuki hati anak-anaknya dengan berbagai petuah dan hikmah tentang kesederhanaan dan kejujuran. Sifat dan sikap keibuan hendaknya bisa memotivasi anaknya untuk selalu hidup dalam kebaikan dan tidak melawan hati nurani. Sifat keibuan seharusnya bisa menjauhkan seseorang dari sifat rakus, pemarah, perusak, maling, dan hina. Tapi jika dilihat-lihat betapa makin tidak tau malunya para koruptor, preman, perampok, perempuan tuna susila, pembunuh, hingga pemuja seks bebas, apakah ini tandanya sifat dan sikap keibuan telah memudar?


Apakah perempuan semakin terlempar jauh dari kodrat keibuannya? Bukankah seharusnya sebagai induk dari tunas dan cikal bakal kehidupan, seorang ibu tak boleh terpisah dari keibuan sebagai citra dirinya? Benarkah keinginan untuk “berdiri sama tinggi” dengan laki-laki membuat perempuan tak bisa menghargai kelebihan yang dianugerahkan Allah untuknya?


Ya..perempuan mungkin khilaf, bahwa memerjuangkan hak perempuan untuk setara dengan laki-laki bukan lantas menafikan kekhasan yang melekat dalam dirinya. Karena, mengakui adanya perbedaan dengan laki-laki, bukan berarti perempuan menjadi lebih lemah atau lebih rendah kedudukannya.


Secara fisik, dengan kemampuan menahan sakit saat datang bulan, mengandung sembilan bulan, dan melahirkan..hanya orang gila yang mengatakan perempuan lebih lemah dari laki-laki. Jika dilihat dari kemampuan perempuan mengharmonikan pekerjaan rumah tangga dengan kasih sayangnya merawat suami dan anak-anak, hanya orang tidak waras yang mengatakan perempuan lebih lemah dari laki-laki. Belum lagi jika menyimak sabda Nabi Muhammad yang mengutamakan ibu tiga kali lebih penting dari ayah, masihkah kita berani mengatakan bahwa perempuan berkedudukan lebih rendah dari laki-laki?

Dengan begitu banyak kekhasan perempuan, bisakah perempuan menyukuri besarnya karunia Allah padanya? Mampukah perempuan menjaga amanah untuk melestarikan sifat dan sikap keibuannya dalam kehidupan sehari-hari? Dapatkah perempuan, di tengah ingar-bingar kompetisi berkarir dan riak gaya hidup kosmopolitan, menyebarkan sifat welas asihnya kepada sesama?


Ada yang bilang, sikap keibuan muncul otomatis ketika seorang perempuan melahirkan seorang anak. Inilah yang dinamakan naluri alamiah. Seorang ibu tentu akan sangat mencintai dan melindungi buah hatinya. Inilah sebuah perasaan yang tak bisa dipungkiri nurani. Lalu, apakah seorang perempuan lajang workaholic serta merta menjadi tidak memiliki sifat keibuan? Apakah seorang perempuan yang berpenampilan (dinilai orang) cenderung tomboi—karena lebih sering bercelana panjang daripada mengenakan rok—berkurang kadar keibuannya? Apakah perempuan yang memiliki banyak cita-cita dianggap belum terasah sifat keibuannya karena belum berkeluarga? Sejauh mana konsep keibuan melekat pada diri seorang perempuan?


Bagi saya, sifat dan sikap keibuan tidak berbanding lurus dengan penampilan fisik (rambut panjang, tubuh langsing dengan lekuk khas kaum hawa, suara merdu) atau status pernikahannya. Perempuan yang keibuan akan mampu membuat orang-orang di dekatnya merasa tenang dan nyaman. Nyaman untuk berbagi, menumpahkan perasaan, dan berdekatan dengannya. Orang-orang pun akan merasa diperhatikan, dicintai, dan disupport. Sebaliknya, seorang perempuan yang bawaannya grasak-grusuk, kasar dalam berkata-kata, tidak memerhatikan kepentingan orang lain, tidak peka terhadap kesulitan orang di sekitarnya, dan tidak bisa menikmati hidupnya...bagi saya, inilah tipe perempuan yang harus berlatih keras memancarkan sifat dan sikap keibuannya.


Maka, ketika seorang teman mengkritik bahwa saya kurang keibuan, tak urung kening saya berkerut. Apa saya benar-benar tidak bisa menghargai kelebihan saya sebagai perempuan: lemah lembut, pengertian, mengasihi. Duh, separah itukah saya?

Minggu, 30 November 2008

Mellow Weeks, Weeks of Tears


“Love makes the world go round. Even if you’re dead.” Last words from Rolling Stone review on Twilight, the movie. I finally read the book. Great. Pas banget dengan my mellow weeks, minggu melankolis yang tanpa disadari ternyata sangat melelahkan. I miss something (or someone) very bad. However, learning the inner peace that we own is not that easy. Harus melalui perenungan yang cukup panjang. Dan terkadang, merenungnya belum selesai, ternyata keburu menyerah dan kembali merutuki nasib dan ngiler ngeliat rumput tetangga yang tampak lebih hijau. Dasar manusia. Itulah kenapa sekarang lagi giat-giatnya berdoa semoga diberi hidayah agar hari ini lebih baik dari hari esok.


My weeks of tears began with questions about love and marriage. Banyak orang yang bingung kenapa belum juga dipertemukan dengan pasangan hidupnya..sementara nggak sedikit orang yang baru cap cip cup ngerasain that enak-enak-enak moments trus tiba-tiba menghadapi masalah, langsung menyerah dengan alasan demi kebaikan bersama. Jadi pernikahan yang kemarin dilaksanain dengan berbunga-bunga dan keyakinan 180% itu nggak mengandung kebaikan ya? I still don’t get the point.


Then, a question about true love came. Gara-garanya, dengerin sambil baca Malaikat Juga Tahu. I really wanna sing that song for someone, and hope someone will sing it for me. Not only about the meaning of the song. Tapi juga membayangkan betapa indahnya saling mencintai. Lepas dari siapa yang akan jadi juara..for now, i know that Bunda’s love is a winner. No one can describe the purity of her love. No doubt. Well, maybe Bella Swan and Edward Cullen will be on the second place:)


Cinta sejati datang tanpa syarat. Tanpa waktu kedatangan yang jelas. Namun bentuknya jelas. Siap menerima kekurangan, menghargai apa yang berbeda, menyemangati tanpa lelah, dan siap untuk jatuh cinta lagi dan lagi pada satu orang yang sama.


Dari cinta, I suddenly remember death. Seems it’s not mellow anymore, huh? Thought of death makes me feel empty. I feel like I haven’t do good things in life. And I suddenly so afraid that I have no time to fix my problems and live a better me. I’m so afraid that my time is up. Jadi inget, pingin banget profil saya ada di wikipedia atau situs tokoh terkenal. It’s not about being famous. But when ur name is on the list, it means that u did something useful and great for people. Penjahat kriminal yang kiprahnya ada di situs-situs, tentu saja pengecualian.


Tapi akhirnya, ketakutan itu menimbulkan kesadaran dan tekad baru untuk menjalani akhir tahun dengan sepenuh hati. Saatnya berbenah dan menyiapkan diri. Bersiap untuk berbagai kejadian besar di tahun depan. Setelah menyimak apa yang terjadi dalam kurun hampir satu tahun, terlihat mana yang membaik, mana yang berjalan flat, tersendat, dan mana yang mengalami kemunduran. Akhir tahun adalah sebuah perenungan dan tempat mengevaluasi diri. Meskipun introspeksi dapat dilakukan kapan saja, tidak harus menunggu bulan Desember.


So i hope my mellow weeks bring more cheerful days for me. So i can share my cheerful life to others. I know that life is too short to cry for. But i’m sure my tears won’t make me weak. Sebaliknya, airmata mengajarkan pentingnya menjalani kehidupan sebaik mungkin. Sekuat mungkin. Sedamai mungkin. Seberguna mungkin. And we can start it now. In the name of love..atas nama cinta. Cinta oh cinta. Ugh..what a mellow yellow me!

Minggu, 26 Oktober 2008

Ratmadi, Syekh Puji, dan Lima Jaksa BLBI


Life is like a roller coaster. Suatu ketika kita bisa berada di atas, lantas secepat kilat menukik tajam. Rasanya belum sempat menikmati masa "kejayaan" saat tiba-tiba kita tersadar bahwa kita sudah tak punya apa-apa. Begitulah hidup. Tak ada yang bisa menebak apa yang terjadi hari esok, lima jam mendatang, dua puluh menit kemudian, atau lima detik dari sekarang. Sebuah rahasia yang hanya bisa dijalani dengan bismillah..mengharap Dia melindungi kita yang sedang berusaha keras meraih asa.

Pertengahan hingga menjelang akhir Oktober diwarnai suspensi bursa efek. Meski masyarakat awam terhadap kegiatan bursa, tak pelak heboh dari lantai bursa mewarnai headline media massa. Maka, seperti biasa, mengalirlah pro kontra. Para pengamat ekonomi berlomba menganalisis, mengkritik, dan memberi masukan. Direktur Utama BEJ, Erry Firmansyah, menjadi star of the day. Wajahnya muncul di berbagai stasiun tv. Suspensi pasar bursa juga menyeret nama grup usaha yang melibatkan orang terkaya se Asia Tenggara tahun 2008 versi majalah Globe Asia. Rumor menggelinding..isu menggeliat..ditambah 'bumbu penyedap' maka gosip seputar kebangkrutan dan penjualan anak perusahaan konglomerasi itu pun menjadi bisik-bisik yang laris beredar di telinga sebagian masyarakat.

Setelah kembang kempis ekonomi global menjadi topik hangat perbincangan di warung kopi pinggir jalan (dengan hidangan andalan: kopi plus debu) hingga coffee shop bintang lima yang sejuk tenan.. muncullah rekaman suara Ratmadi Saptondo, sang Kepala Kejaksaan Negeri Tilamuta, Kabupaten Boalemo, Gorontalo, sedang 'ngobrol' dengan Kepala Panitia Lelang Pemkab Boalemo, Subhan Umar. Suaranya keras bernada kesal sambil menyebut nama Bupati Boalemo, Iwan Boking dan cibiran terhadap kepolisian. Yang bikin hot, si Kajari menyebut akan membongkar kasus-kasus Pak Bupati seandainya nggak dikasih uang 50 juta. Wuidih..ngambeknya minta 50 juta! Jadi inget waktu kecil dulu. Kalo lagi ngambek, 'disuap' satu permen juga dah seneng. Ternyata beda usia, beda jaman, beda proporsi:) Dan tanpa ba-bi-bu, Pak Jaksa Agung, Hendarman Supandji, langsung memecat Pak Kajari yang langsung berubah status jadi Mantan Kajari. Sama kayak Pak Erry, Ratmadi pun jadi buah bibir di mana-mana. Seleb dadakan!

Setelah gonjang-ganjing dugaan korupsi dengan Ratmadi sebagai leading actor, hot seat akhir Oktober ditempati oleh Pujiono Cahyo Widianto a.k.a Syekh Puji (43) yang ketauan menikahi Lutfiana Ulfa, gadis berusia hampir 12 tahun. Alasan Syekh Puji, Ulfa adalah istri yang akan disiapkan menjadi penerus kerajaan bisnisnya dan dalam usia belia inilah saat yang tepat untuk kaderisasi, pembelajaran, dan 'penggojlokan'. "Mental dan pikiran anak kecil masih lurus, belum terkontaminasi hingga mudah diarahkan." begitu kira-kira pendapat Syekh Puji. Ia mengaku terinspirasi pengaderan yang dilakukan Akio Morita, pendiri kerajaan elektronik Sony. Hebohnya lagi, Syekh Puji ternyata menikahi Ulfa secara sirri pada tanggal delapan bulan delapan tahun dua ribu delapan. Ulfa adalah kandidat calon istrinya yang kedua puluh satu. Kata tim sukses Syekh Puji, selain cantik, Ulfa sangat pintar. Itulah kenapa gadis yang baru lulus SD itu terpilih jadi istri kedua Syekh Puji setelah Ummi Hani.

Sampai hari ini (27/10/08), nama Syekh Puji masih ramai dibicarakan. Mulai dari MUI, HTI, para pakar medis, hingga Kak Seto, ramai mengkritik langkahnya. Toh, Syekh Puji bergeming. Dia merasa apa yang dilakukan tidak bertentangan dengan ajaran Islam, agamanya, bahkan cenderung meniru Rasulullah. Padahal, untuk alasan ini, rentang waktu, kebutuhan, dan dalil syar'i nya bisa jadi berbeda 180 derajat dari yang dilakukan Nabi. Bahkan, Syekh Puji dihadang UU Perkawinan tahun 1974 dan UU No. 23 tahun 2002.

Tapi..dari sekian ingar-bingar yang membuat kita mengernyitkan dahi dan mengelus dada..ada satu kisah yang membuat kita bersyukur dan (tidak dilarang) meneteskan airmata. Dari 35 jaksa tim penyelidik kasus BLBI ada lima orang jaksa yang terpaksa jual mobil demi memiliki biaya untuk operasional penyelidikan. Mana ada pejabat jaman sekarang rela ngorbanin harta pribadinya untuk kepentingan tugas negara? Can u imagine? Sementara sang ketua tim, UTG, justru sibuk 'jual beli permata' demi mendapat 660 ribu dolar Amerika dari Artalyta Suryani, yang mengaku cuma seorang ibu rumah tangga. Mmm..dengan kepiawaiannya mengontrol para jaksa, sepertinya Ayin (panggilan akrab Artalyta) lebih cocok jadi pialang saham, mandor, atau juru lelang yang berkuasa membuat orang lain mengikuti aturannya. Anyway, kelima jaksa "unbelievable" itu mungkin tak pernah disebut dan diekspos (ini yang disesalkan Jaksa Agung) padahal dedikasi mereka membuat kita geleng kepala karena takjub.

Life is a roller coaster. Mungkin banyak orang lupa bahwa apa yang kita jalani di dunia hanyalah sementara. Setelah senang, ada susah. Begitu juga sebaliknya. Setelah naik, kita akan turun. Setelah malam, pagi pun datang. Dan kejahatan, pasti tak akan menang melawan kebaikan (meskipun kejahatan selalu tampak lebih bersinar dan gemerlap dibanding kebaikan). Maka, mumpung masih hidup, mumpung hidup cuma sekali, hiduplah yang berarti.



Kamis, 02 Oktober 2008

Bukan Sembarang Romansa



Ramadhan 1429 H telah berlalu. Fajar Syawal yang ditandai hadirnya Idul Fitri juga telah menyingsing. Semoga kita termasuk ke dalam golongan minal aidin wal faizin; yang berhasil kembali suci dan menjadi pemenang. Sinar Idul Fitri menyusupkan harapan baru tuk menjadi insan yang naik ke kelas lebih tinggi. Sebuah harapan yang telah terangkum dalam doa dan menjelma menjadi tekad. Mudah-mudahan sekuat tekad Laskar Pelangi yang tak lelah dan tanpa putus asa menggantungkan cita setinggi langit.

Laskar Pelangi hadir di saat yang tepat. Novelnya hadir ketika hati merutuki betapa sialnya hidup ini. Tak terbayang bagaimana seorang Lintang, sang jenius alam, begitu rela kehilangan masa depannya demi menghidupi adik-adiknya. Sementara tak sedikit dari kita, dengan kadar kepintaran yang sangat jauh di bawah Lintang, bisanya hanya mengeluh karena tidak punya karier hebat dan uang melimpah.

Lintang datang untuk menumbuhkan nyali yang telah menciut. Bagaimana begitu kerdilnya kita karena telah menyia-nyiakan anugerah dari Allah. Dengan mudahnya kita membolos karena bosan, tak memperhatikan guru dan dosen yang mengajar, mencontek saat ulangan dan ujian, mengabaikan semua peraturan sekolah, dan mengabaikan ilmu yang diperoleh setelah lulus kuliah. Dalam fase hidup selanjutnya, kita pun selalu mengeluh kekurangan, tanpa menyadari bahwa cawan karunia kita sebenarnya telah penuh, bahkan luber.

Kita tak pernah sadar betapa beruntungnya kita bisa mengisi cakrawala berpikir dengan berbagai ilmu, sampai Lintang dengan sepeda yang harus dikayuhnya, buaya yang menghalangi jalannya ke sekolah, dan adik-adik perempuannya yang masih kecil, menampar kita dengan kesungguhannya meraih masa depan (meski akhirnya takdir membawanya pada 'perjuangan hidup' yang lain). Kita tidak sadar bahwa detik demi detik hidup kita amat berharga sehingga begitu bodoh jika disia-siakan hanya untuk mengecilkan diri, menyerah pada kesulitan, dan selalu menyalahkan nasib. Coz, we don't know what we've got, till it's gone..

Kehadiran Laskar Pelangi the movie di penghujung Ramadhan tahun ini juga melengkapi perenungan sepanjang bulan suci. Menginspirasi dan mengelaborasi kualitas diri. Menyaksikan (walaupun gambar visual tetap tak bisa menggantikan keliaran imajinasi dan interpretasi saat baca novelnya) Zulfanny cs bermain asik berhasil 'memaksa' airmata berlinang sekaligus memompa semangat untuk be a better me from now on...

Maka..
  • Jangan mengeluh, karena setiap ucapan yang keluar dari bibir kita adalah doa
  • Jangan berpikir terlalu keras untuk sesuatu yang belum terjadi, karena memprediksi masa depan sama sekali bukan keahlian kita
  • Jangan malas, karena rezeki dan kebahagiaan tidak gratis dan tiba-tiba diturunkan dari langit
  • Jangan memuja IQ, karena IQ semata akan jadi bencana tanpa EQ dan SQ
Laskar Pelangi mengajarkan kejujuran, kegigihan, dan keberanian mengejar mimpi. Karena keberhasilan tak sekadar cakap secara duniawi, tapi juga dari kebeningan hati dan akhlak terpuji. Keelokan paras, kepintaran, dan kekayaan mungkin membuat kita silau. Tapi camkan, bahwa semua itu tak menjamin seseorang menjadi orang baik dan terhormat di mata Allah. Hanya manusia yang buta matahatinya, yang selalu menomorsatukan atribut duniawi dalam menilai orang lain...

menarilah dan terus tertawa, walau dunia tak seindah surga


Jumat, 26 September 2008

Jujur pada Diri Sendiri


Mengapa bersikap jujur (sering) terasa tidak mudah? Karena kita juga (sering) tidak bisa jujur pada diri sendiri. Kita lebih suka melakukan penyangkalan terhadap perasaan suka, gelisah, benci, takut, penasaran, dan kegamangan emosi lainnya. Kita tidak sadar bahwa semakin kita menolak menyadari gejolak emosi yang mendera, kita akan semakin sulit mengenali diri sendiri. Mengapa? Karena semua tentang diri kita tertutup selaput tipis, yang mampu meredam perasaan kita agar tak mencuat ke permukaan.

Bayangkan betapa tersiksanya saat kita harus menipu diri sendiri, ketika tanpa sadar perasaan suka, sayang, dan cinta tumbuh terhadap seseorang. Penyangkalan demi penyangkalan yang kita maklumatkan hanya akan membuat perasaan itu tumbuh kian kokoh. Betapa bodohnya kita menyia-nyiakan pertemuan dengannya hanya dengan diam dan menatapnya diam-diam. Betapa angkuhnya kita, menyambutnya dengan datar, padahal ujung bibir begitu ingin melengkungkan senyum saat berhadapan dengannya. Karena kita tak berani mengakui perasaan kita sendiri, takut terluka bila ternyata dia tak bisa jadi milik kita. Tak berani jujur pada diri sendiri dan memilih untuk membohongi nurani.

Di sisi lain, bayangkan betapa munafiknya kita mengembangkan senyum untuk orang yang kita benci. Pura-pura antusias mendengar musik acid jazz saat kongkow di kafe, padahal sebenarnya kita adalah pencinta musik pop ringan yang mendayu-dayu. Atau berlagak kuat menghadapi pekerjaan berdead line ketat, padahal kita tak punya kompentensi untuk mengerjakannya. Ketidakjujuran itu hanya akan memaksa kita terus berbohong dan berbohong untuk menutupi kebohongan sebelumnya. Tak ayal hidup pun terasa tak pernah menyenangkan.

Akibatnya, nurani pun terabaikan. Topeng seakan telah bersatu dengan wajah kita. Kita tak lagi tau apa yang sebenarnya sedang kita rasakan. Entah gembira, sedih, malu-malu, geram, atau sedang terpesona pada seseorang. Semua terjadi karena kita tak mau jujur pada diri sendiri. Karena kita memilih untuk lari dari kenyataan, memaksakan diri bahwa segala sesuatu berjalan baik. Padahal, kita bisa lebih merasa tenang jika tak membohongi diri sendiri.

Jika kita sudah tidak mau bahkan tak mampu lagi jujur pada diri sendiri, lalu bagaimana kita bisa berbuat jujur pada orang lain dan masyarakat? Para koruptor menjadi contoh bagaimana mereka telah berhasil membutakan mata hati, menutupi perasaan bersalah dan malu, hingga tak lagi memerdulikan kemaslahatan diri dan orang lain. Mereka sukses menghalangi nurani kemanusiaan mereka dengan silaunya kemewahan dunia yang bersifat sementara.

Maka jujurlah pada diri sendiri. Biarkan kaki melangkah mengikuti kata hati. Sinari jalan di depan kita dengan lentera jiwa yang dihidupkan dari sikap jujur pada diri sendiri. Jujur pada diri sendiri menjadi penting agar setiap lengkungan ombak perasaan yang naik turun dapat menjadi secangkir teh hangat di pagi bagi kita. Membangkitkan semangat, menenangkan, dan menambah kedinamisan hari-hari kita. Coz, honesty will bring happiness that we never feel before.